Senin, 07 April 2014

Menyusuri Gua Sinjang Lawang di Pangandaran

TIDAK banyak yang tahu goa Sinjang Lawang di Dusun Parinengan Desa Jadimulya Kecamatan Langkap Lancar Kabupaten Pangandaran. Goa ini memiliki panjang 500 meter dengan dilewati oleh aliran Sungai Cijulang. Goa ini memiliki lebar  65 meter dengan tinggi goa mencapai 60 meter.

Mulut Goa
Menyusuri goa ini bisa dilakukan dengan berenang menyusuri sungai menggunakan pelampung, helm, head lamp dan ban karet yang disediakan pemandu wisata dari Grand Canyon yang ditunjuk oleh warga dusun tersebut untuk menemani pengunjung. Itu karena warga di dusun tersebut belum ada ahli yang berpengalaman memandu menyusuri goa. Warga di dusun itu pun baru sadar goa tersebut bisa jadi obyek wisata andalan yang bisa mengalahkan pamor obyek wisata Grand Canyon.

Mulut Goa
Menuju obyek wisata ini, bisa diakses dari kawasan Pantai Pangandaran dengan mengambil rute ke arah obyek wisata Citumang yang berada satu jalur menuju kawasan Pantai Batu Karas atau Grand Canyon. Dari Obyek wisata Citumang, dibutuhkan waktu sekitar 30 menit menuju Dusun Parinengan.

Setibanya di Dusun Parinengan, kamu harus berjalan kaki melewati jalan setapak menuju mulut goa. Atau, kamu bisa menuju mulut goa menggunakan ban karet dengan menyusuri aliran sungai. 

Mulut Goa
Kedalaman aliran sungai di dalam goa sendiri bervariatif. Ada yang dangkal dan ada pula yang cukup dalam yakni 1.5 meter hingga 3 meter. Namun, kamu bisa melaluinya dengan bantuan pelampung atau ban karet. 

Sepanjang 500 meter di dalam goa, kamu akan menikmati fenomena alam di dinding dan langit goa berupa stalagtit dan stalagmit. Di tengah-tengah goa, saat siang hari, pengunjung bisa melihat sinar matahari menembus goa melalui langit-langit goa yang terbuka lebar. Pemandangan sinar matahari menembus goa itu menjadi pemandangan menarik karena berkelindan dengan stalagtit, stalagmit serta ukiran batu karena proses alam.

Tidak hanya itu, sinar matahari yang menembus goa dari atap goa lalu mengenai air di aliran sungai ini juga memantulkan warna hijau toska, hijau dan merah ke dinding-dinding goa. Perpaduan warna yang bisa dilihat di dinding goa ini membuat pengunjung akan betah di dalam goa. 

Cahaya matahari masuk ke dalam goa
Usai menikmati pemandangan di dalam goa yang menghadirkan batu-batu kapur dalam bentuknya yang unik, pengunjung pun akan mengakhiri perjalanan di ujung goa yang masih aliran sungai dengan dikelilingi hutan kecil milik warga. 

Di ujung goa, pengunjung juga akan melihat fenomena alam di langit-langit goa. Ukiran batu membentuk hati terukir di langit-langit goa. 

Karena belum ada akses menuju titik pertama dari ujung goa, untuk kembali pulang, pengunjung harus kembali menyusuri goa. Bisa kembali dengan berenang atau berjalan di batuan kapur di atas aliran sungai di dalam goa.Hanya saja, jika memilih pulang dari goa dengan berjalan di batuan kapur, itu harus ekstra hati-hati karena jalan akan licin. Itu sebabnya, lebih baik melawan arus air yang tenang untuk kembali ke titik pertama penelusuran goa.

Warga dusun tersebut menamakan goa ini Sinjang Lawang. Disebut Sinjang Lawang karena di dinding di mulut goa ini terdapat ukiran batu mirip batik yang tercipta karena proses alam. Ukiran batu karena proses alam ini membentuk motif batik khas sunda dalam kain sinjang atau dalam bahasa Indonesia disebut sarung.

Goa yang dialiri Sungai Cijulang (Sungai bawah tanah) ini terbilang kawasan wisata baru di Kabupaten Pangandaran meski keberadaannya sudah ada sejak lama. Sejak dua bulan terakhir, goa ini mulai diperkenalkan pada dunia luar. Itu kenapa warga disana sangat antusias membangun prasarana wisata dengan keyakinan, mereka bisa berdaya secara ekonomi dengan memanfaatkan goa tersebut sebagai obyek wisata alam.

Akhir penelusuran goa. Lihat bagian atas, batu ukiran alam
membentuk hati
Saat saya berkunjung kesana, puluhan warga bergotong royong membuka akses jalan melalui mulut gua dengan jalan setapak melewat hutan kecil dan melewati pinggiran sungai. Kepala Dusun setempat, Ujang Solihin (48) mengatakan semua warga di dusun itu sudah mengetahui keberadaan goa tersebut. Hanya saja, mereka tidak sadar betul goa tersebut jadi modal wisata yang bisa mereka kembangkan.

Kami memilih susur sungai dari Dusun Parinengan menuju
menuju mulut S
injang Lawang
"Kami sudah tahu tempat ini sejak lama. Tapi memang kami baru ingin mengembangkan goa ini sebagai obyek wisata terbaru di Pangandaran yang tidak kalah dengan Grand Canyon. Bahkan, kami yakin obyek wisata goa ini lebih bagus dari Grand Canyon," katanya.

Jauh sebelumnya, Ujang mengatakan banyak warga yang sering mengunjungi lokasi tersebut untuk sekedar memancing di dalam goa. Hanya saja, tidak banyak warga yang bisa menembus goa tersebut hingga ke ujung goa. "Paling selama ini ada yang mancing saja kalau ke goa. Enggak pernah ada yang berenang atau sekedar menyusuri goa karena mungkin masih takut," ujarnya.

Batuan kapur di dalam goa
Saya sendiri datang kesini tanpa direncanakan sebelumnya. Mendapat tugas dari kantor ke Pangandaran kemudian bertemu dengan kawan saya disana yang sudah tinggal setahun. Kawan saya ini memberitahu kami tentang Sinjang Lawang yang masih baru dan belum terjamah oleh umum.

Ketika tiba disana, saya sangat terharu melihat aktivitas warga yang sangat membanggakan goa ini sebagai salah satu sumber ladang penghasilan mereka kelak. Saat itu, saya melihat mereka bekerja bakti membuka jalan menuju mulut goa. Mereka juga memasang plang obyek wisata yang mereka pasang sehari sebelum kedatangan mereka kesini.

Mereka sendiri belum menetapkan berapa harga yang harus dibayar untuk bisa melakukan trip susur goa ini. Hanya saja, jika kamu hendak kesana, saya sarankan untuk menghubungi pak Didin, pemandu wisata disana. 081222949939.

5 komentar:

  1. Permisi gan.. maaf nih komen perbandingan, antara Cukang Taneuh / Green Canyon, jangan dulu bandingkan bila agan belum pernah ke Cukang Taneuh Green Canyon. Menurut saya, dua-duanya memiliki keunikan tersendiri. bagus sih dibilang lebih bagus di SL daripada GC biar banyak orang penasaran, tapi alangkah baiknya perbandingan lebih bagusnya diganti yang lebih keren gtu gan. Haturnuhun.

    BalasHapus
  2. Aduh iya punten sebelumnya. Sy pernah ke cukang taneuh 2009 sareng 2012. Jd scara nalar bisa membandingkan keduanya dan keduanya memang beda, SL gua dgn batuan kapur dan CT sungai membelah tebing.

    Tp di tulisan ini, lebih kepada ekpose SL spy org penasaran dan jd banyak yg tahu. Sy liat lansiran di google, ga banyak yg nulis soal SL. Apalagi, yg bikin terharu teeh itu warga dusun sana antusias banget ngembangin SL. Apa ya, saya mikirnya warga disana bisa menjadikan SL sebagai sumber daya ekonomi mereka nanti.

    Jadi, sama sekali ga bermaksud apa2 kang. Sabelumnya, mohon maaf upami kirang berkenan. :)

    BalasHapus
  3. Sumuhun kang, Kahartos saupami aya penjelasan kitu mah, pamugi nu maos seratanana ngartos sadayana, terutami para pelaku wisata di Cukang Taneuh.

    BalasHapus
  4. Iya kang. Hatur nuhun. Punten sebelumnya...:)

    BalasHapus
  5. Kang punten, dari Pangandaran ke Sinjang Lawang ada transportasi umum gak?
    Pangandaran-Citumang-Dusun Panengan.

    Butuh info segera nih. Pertengahan Agustus mau backpacker ke sana.

    BalasHapus